Taman Surga
Dahulu kala ada seorang pangeran muda yang suka membaca tentang tempat-tempat yang jauh. Dari semua keajaiban dalam buku-bukunya, satu yang paling memanggilnya: Taman Surga, tempat orang-orang pertama pernah tinggal, di mana bunga tidak pernah pudar dan keempat musim hidup berdampingan. Dia rindu melihatnya dengan matanya sendiri.
Jadi dia berangkat dari istana ayahnya dan mengembara sejauh jalan bisa membawanya. Dia mendaki gunung, melintasi dataran sepi, dan akhirnya sampai di sebuah rumah besar yang dibangun di tebing batu abu-abu. Seorang wanita tua berdiri di pintu. Rambutnya berkibar seperti awan, dan matanya berbinar seperti langit badai.
"Saya Ibu Angin," katanya, dengan senyum yang baik dan kuat. "Masuklah, Pangeran, dan tunggu putra-putra saya. Mereka membawakan saya berita dari setiap sudut dunia."
Satu per satu Angin pulang. Pertama Angin Barat berhembus masuk, berbau bunga jeruk dan garam laut. "Saya telah bertiup di atas ombak lembut dan taman yang penuh musik," katanya. Kemudian Angin Selatan berguling masuk dengan berat dan hangat, dengan guruh bergumam di sakunya. "Saya telah menari melalui hutan dan gurun," gemuruhnya, "dan mencairkan salju ke mana pun saya pergi." Terakhir Angin Utara meraung masuk dengan ledakan es dan jubah penuh salju. "Brr!" tawa Ibu Angin, dan dia mengikat syalnya lebih erat agar dia tidak membekukan sup di atas meja.
Pangeran mendengarkan, tetapi jantungnya berdetak lebih cepat ketika Angin Timur akhirnya meluncur melalui pintu. Dia lembut dan jernih, dan dia berbau seperti fajar. "Dari mana saja kamu, anakku?" tanya Ibu Angin.
"Ke tempat-tempat di mana langit tinggi dan bumi disembunyikan oleh laut biru," kata Angin Timur. "Saya telah pergi sejauh Taman Surga."
Pangeran berdiri seketika. "Bisakah kamu membawaku ke sana?" pintanya. "Saya telah mencarinya sepanjang hidup saya."
Angin Timur mempelajarinya. "Itu bukan tempat untuk sembarang orang," katanya lembut. "Makhluk yang waspada duduk di dekat gerbang. Dia disebut Dosa, dan dia melihat melalui setiap penyamaran. Tetapi jika kamu berani dan jujur, saya akan mencoba."
Ibu Angin menggelengkan kepalanya tetapi mencium pangeran di alisnya. "Perhatikan apa yang kamu lakukan, nak," katanya. "Surga tidak dimenangkan dengan berharap."
Saat fajar Angin Timur mengangkat pangeran di punggungnya. Mereka terbang di atas danau yang bersinar dan hutan gelap, di atas kota-kota seperti kotak mainan kecil dan kapal-kapal seperti burung putih. Mereka beristirahat di bahu gunung tempat api bersinar jauh di bawah, dan kemudian mereka melaju lagi sampai dinding logam tinggi yang bersinar menjulang di depan mereka. Sebuah gerbang berdiri di sana, dan di sampingnya duduk seorang wanita kecil, abu-abu dengan mata tajam dan buku tebal di pangkuannya.
"Itu adalah Dosa," bisiknya. "Tutup matamu saat saya meniup, dan mungkin kita bisa lewat." Angin Timur menghembuskan napas yang sejuk dan jernih. Dedaunan berdesir, udara mendengung, dan sekejap wanita abu-abu itu mengangguk dan menutup matanya. Pada saat itu gerbang terbuka, dan pangeran menyelinap masuk.
Dia melangkah ke dalam keajaiban. Di satu sudut musim semi bernyanyi dengan bunga apel dan burung membangun sarang. Di sudut lain musim panas bersinar dengan gandum tinggi dan lebah berdengung. Sudut ketiga bersinar dengan musim gugur: anggur ungu tergantung berat, dan daun emas melayang turun. Sudut terakhir berkilauan dengan renda musim dingin, di mana kepingan salju menari dan es bersinar seperti kaca. Di tengah menjulang pohon besar dengan akar yang dalam dan lengan lebar, seolah-olah mengingat cerita tertua di dunia.
Dari cahaya itu muncul seorang wanita muda, anggun dan cerah seperti pagi hari. "Selamat datang," katanya. "Saya adalah Putri Taman." Dia memegang tangan pangeran dan menunjukkan kepadanya setiap keajaiban. Mereka berjalan di mana bunga bernyanyi dengan lembut, dan sungai menceritakan rahasia dengan suara perak. Hati pangeran terasa lebih ringan dari sehelai bulu.
Ketika matahari mulai tenggelam, sang putri berubah menjadi serius. "Kamu ingin tinggal," katanya, membaca keinginan di matanya. "Kamu boleh tinggal selamanya—jika kamu bisa menepati satu janji. Malam ini kamu harus duduk dan berjaga di dekat pintuku. Jangan biarkan Dosa masuk, tidak peduli apa yang dia katakan atau bagaimana dia memohon. Jika kamu bertahan sampai pagi, Taman ini akan menjadi milikmu dan aku akan berada di sisimu. Tetapi jika Dosa menyentuhmu sedikit saja, angin akan membawamu pergi, dan kamu tidak akan menemukan tempat ini lagi dengan mencarinya."
"Saya akan menepati janji saya," kata pangeran, karena harapannya kuat.
Malam jatuh lembut dan sejuk. Pangeran duduk di dekat pintu putri. Bulan naik, dan bintang-bintang berkedip. Burung hantu memanggil dari pohon musim dingin. Pangeran melipat tangannya dan berjaga. Tetapi ketika malam semakin panjang, langkah kaki terdengar seperti daun kering di jalan setapak. Wanita kecil abu-abu dari gerbang muncul, matanya cerah seperti jarum.
"Biarkan saya menghangatkan diri di sampingmu," bisiknya. "Hanya sebentar. Saya sudah tua dan malam ini dingin."
"Tidak," kata pangeran, mengingat janjinya. Dia bangkit dan berdiri di antara dia dan pintu.
Dia tersenyum, dan suaranya berubah manis seperti buah matang. "Apakah kamu mendengar napasnya?" gumamnya. "Putri tidur di balik pintu itu. Lihat, sekali saja. Lihat betapa damainya dia. Satu ciuman tak berbahaya di alisnya—apa salahnya dengan itu? Kamu mencintainya."
Jantung pangeran berdebar kencang. Dia menutup matanya. Dia memikirkan fajar, tinggal di Taman selamanya. "Tidak," bisiknya. Tetapi bisikan itu goyah. Napas wanita abu-abu itu menyapu pipinya seperti asap dingin. Pintu terbuka selebar jari, dan pangeran melihat Putri tidur, lebih indah dari lagu, dengan air mata bersinar di sudut matanya.
"Satu ciuman," desah Dosa. "Hanya satu."
Pangeran membungkuk dan menyentuhkan bibirnya ke alis Putri.
Tanpa guruh seperti desahan, Taman bergetar. Putri membuka matanya, dan kesedihan terbaring di sana seperti bayangan. "Sudah selesai," katanya, dan suaranya lembut tetapi sangat sedih. "Kamu telah melanggar janjimu. Saya memperingatkanmu bahwa Dosa akan meminta sedikit dan mengambil segalanya."
Bunga musim semi layu. Daun musim gugur jatuh lebih cepat, berputar seperti burung yang pergi. Angin dingin mengalir melalui sudut musim dingin, dan lebah musim panas terdiam, seolah mendengarkan akhir sebuah cerita.
Putri memegang tangan pangeran sekali lagi. "Saya menyukai keberanian dan keajaibanmu," katanya, "tetapi kamu mencoba masuk melalui jalan pintas. Kamu tidak boleh tinggal di sini sekarang. Angin Timur akan membawamu pergi, dan kamu akan mengembara dengan musim gugur dan musim dingin di hatimu. Lakukan kebaikan di dunia. Jadilah setia dan baik hati. Ketika hari-harimu berakhir, Surga yang lebih besar terbuka bagi mereka yang benar-benar baik—yang tidak bisa dibawa angin, dan tidak ada yang bisa mengambilnya."
Sebelum pangeran bisa berbicara, Angin Timur ada di sisinya, sedih dan yakin. Dia mengangkat pangeran, dan bersama-sama mereka bangkit di atas dinding yang bersinar. Gerbang tertutup dengan suara pelan, dan Taman Surga tersembunyi sekali lagi.
Mereka terbang kembali di atas dunia yang tertidur. "Jangan kehilangan harapan," gumam Angin Timur. "Biarkan perbuatanmu menjadi sayapmu."
Pangeran kembali ke bumi yang luas dan biasa. Dia berjalan di antara orang-orang yang membutuhkan bantuan, dan dia mencoba membuat hatinya kuat dan tangannya lembut. Kadang-kadang, pada pagi yang cerah, napas sejuk menyentuh wajahnya, dan dia ingat lagu sungai dan empat sudut terang tempat musim hidup bersama. Dia tidak pernah menemukan Taman itu lagi, tetapi dia menyimpan pelajarannya: Surga tidak bisa dicuri. Itu harus diperoleh dengan memilih apa yang benar, hari demi hari, sama setianya dengan angin yang kembali bersama fajar.




















