Si Cantik dan Si Buruk Rupa
Di sebuah kota perdagangan kecil, hiduplah seorang gadis bernama Belle. Dia menyukai buku, pertanyaan, dan jalan-jalan di hutan. Ayahnya adalah seorang pedagang yang baik hati, meskipun dia sering bepergian jauh. Sekali waktu, setelah dia kehilangan hampir segalanya dalam badai, mereka pindah ke gubuk sederhana di tepi hutan. Belle tidak mengeluh. Dia memanggang roti, mengambil air, dan bernyanyi untuk menjaga harapan tetap hidup. Ketika ayahnya bepergian lagi, dia hanya meminta satu hadiah sederhana: mawar merah.
Perjalanan itu menjadi panjang, dan cuaca berubah berbahaya. Salju turun dengan lebat, dan angin menderu. Tepat ketika ayahnya mengira dia akan membeku, sebuah istana muncul melalui kabut tebal. Gerbangnya terbuka lebar. Di dalam, api menyala hangat, makanan tersaji, dan selimut lembut menunggu, seolah-olah tangan tak terlihat telah mengurus semuanya. Tidak ada orang yang terlihat di mana pun. Dia makan sedikit, tertidur, dan diam-diam berterima kasih kepada tuan rumahnya yang tak terlihat.
Di pagi hari, dia menemukan taman di mana mawar bermekaran di tengah salju. Dia teringat keinginan Belle dan dengan hati-hati memetik sekuntum mawar. Tiba-tiba, tanah bergetar, dan dari bayang-bayang melangkah sesosok makhluk dengan mata bersinar dan suara seperti guntur. "Kau mencuri mawarku," kata si Buruk Rupa, "satu-satunya hal yang masih harum dalam kegelapanku." Ayah Belle jatuh berlutut dan menjelaskan bahwa mawar itu untuk putrinya. Tatapan si Buruk Rupa melunak, tetapi suaranya tetap kasar. "Aku tidak menuntut nyawamu. Tetapi orang yang mencintaimu boleh memilih untuk datang ke sini menggantikanmu. Bukan dengan paksaan—tetapi atas kehendak bebas mereka sendiri."
Ayah Belle diberi cincin yang bisa menuntun jalan kembali. Di rumah, dia dengan putus asa menceritakan semuanya. Belle meletakkan tangannya di atas tangan ayahnya. "Ayah adalah ayahku. Aku memilih untuk pergi," katanya, dan suaranya tidak gemetar.
Ketika Belle tiba, gerbang terbuka dengan tenang. Suara hangat berbicara dari udara: "Selamat datang, Belle. Kamu adalah tamu, bukan tawanan." Si Buruk Rupa melangkah maju—sebesar beruang, dengan cakar seperti pisau—tetapi dia berdiri di kejauhan dan menundukkan pandangannya agar tidak menakutinya. Dia memintanya untuk makan malam bersamanya setiap malam, dan dia menunjukkan padanya aula perpustakaan yang sangat besar di mana buku-bukunya berbau petualangan. Di taman, mawar bermekaran dalam semua warna.
Hari berganti minggu. Belle membacakan dengan lantang, dan si Buruk Rupa mendengarkan. Mereka berjalan di taman ajaib, di mana lampu menyala sendiri dan musik diputar entah dari mana. Si Buruk Rupa canggung tetapi lembut, cepat meminta maaf, lambat tersenyum. Ada kehangatan tenang dalam kata-katanya, seperti api yang hanya ingin menyala dengan lembut.
Setiap malam, saat bintang-bintang muncul, si Buruk Rupa bertanya dengan keseriusan yang tulus: "Belle, maukah kamu tinggal di sini selamanya?" Belle menjawab dengan jujur: "Aku menyukaimu, temanku, tapi aku belum siap." Si Buruk Rupa mengangguk. "Terima kasih telah mengatakan yang sebenarnya."
Suatu hari, dia mengeluarkan cermin yang berkilauan seperti air. "Ini menunjukkan apa yang kamu rindukan," katanya. Belle melihat ayahnya, pucat dan sakit. Hatinya sakit. "Pergilah padanya," kata si Buruk Rupa. "Pakai cincin ini. Pikirkan istana ketika kamu memutarnya, dan kamu akan menemukan jalan kembali. Apakah kamu berjanji untuk kembali dalam tujuh hari?" Belle meremas cakarnya. "Aku berjanji."
Di rumah, dia merawat ayahnya sampai demamnya turun. Saudara-saudaranya mengajukan seribu pertanyaan. Hari-hari kabur menjadi malam, dan janji itu membakar di dada Belle. Pada malam ketujuh, angin bertiup kencang. Belle mengangkat cermin—dan melihat si Buruk Rupa terbaring diam di dekat semak mawar, seolah semua kekuatan telah lari darinya.
Dia memutar cincin itu dan berbisik, "Bawa aku pulang ke istana." Udara bergetar, dan dia berdiri di taman yang dingin. "Aku di sini!" panggilnya, jatuh berlutut di sisi si Buruk Rupa. "Maafkan aku karena menunda. Tolong, jangan tinggalkan aku!"
"Aku hanya ingin menepati janjiku," bisik si Buruk Rupa dengan lemah. Belle meletakkan tangannya di jantungnya. "Aku melihat siapa dirimu, bukan bagaimana penampilanmu. Aku... aku mencintai keberanianmu, kebaikanmu, dan kebenaranmu."
Kemudian fajar menyingsing di atas menara istana. Cahaya berputar di sekitar mereka. Bulu si Buruk Rupa meleleh, menjadi jubah; cakarnya berubah menjadi tangan, dan di depan Belle berdiri seorang pangeran muda dengan mata hangat yang sama. Istana terbangun: tawa bergema, tirai berkibar terbuka, dan pesona itu akhirnya pecah. "Dulu aku sombong," kata pangeran dengan lembut. "Sihir lama mengikatku sampai seseorang melihat hatiku. Kamu melihatnya."
Belle tersenyum di sela air mata. Dia memilih untuk tinggal, bukan karena takut, tetapi karena persahabatan dan harapan. Bersama-sama, mereka membuka perpustakaan untuk semua yang ingin membaca dan menanam taman mawar di mana setiap semak menyandang nama perbuatan baik. Dan setiap kali mawar baru mekar, mereka ingat: kecantikan sejati tidak hidup di cermin, tetapi di hati yang berani menjadi berani dan baik.












