Buddy di Sisiku
Maya memiliki seekor anjing bernama Buddy. Buddy berbulu lebat dan berwarna cokelat, dengan satu kaki putih seperti sarung tangan. Telinganya lembut, dan hidungnya hangat dan basah. Ketika Maya tertawa, ekor Buddy berbunyi gedebuk-gedebuk di lantai.
"Siap, Buddy?" tanya Maya pada suatu pagi yang cerah.
"Guk!" kata Buddy.
Mereka pergi ke Taman Willow bersama Kakek Ben. Kakek memegang tali biru panjang Buddy. Maya memantulkan bola karet merah.
Di taman, ada spanduk cerah, panggung boneka, dan angsa yang berbunyi honk-honk. Anak-anak berlarian dengan layang-layang yang menukik dan berputar. Seorang pemain sulap melemparkan cincin mengkilap. Udara berbau seperti popcorn dan rumput.
Maya melemparkan bola. "Ambil!"
Buddy berlari, kaki berbunyi tepuk-tepuk, dan membawanya kembali tepat. Dia meletakkannya dengan lembut di tangan Maya setiap saat. Dia tidak pernah menyimpannya, tidak sekali pun.
"Kamu anjing yang baik," kata Maya.
"Guk," kata Buddy, dan dia mengibas begitu keras hingga seluruh punggungnya bergoyang.
Hembusan angin bertiup melalui taman. Sebuah layang-layang merah menukik rendah. Pita kertas berkibar seperti ular menari. Orang-orang bergerak lebih dekat untuk melihat pemain sulap. Jalan setapak menjadi sibuk dan cerah dan berisik.
"Ayo beli limun," kata Kakek. "Tetap di dekatku."
Maya memegang tali biru. Buddy berjalan di sampingnya, dekat seperti bayangan. Tetapi kerumunan berputar, dan seorang pria jangkung dengan balon raksasa melangkah di antara mereka. Ketika balon itu terombang-ambing menjauh, Kakek sudah hilang dari pandangan.
Maya melihat ke kiri. Dia melihat ke kanan. Dia melihat cincin pemain sulap. Dia melihat angsa. Dia melihat bangku dengan syal merah berkibar di atasnya. Tetapi dia tidak melihat Kakek.
Perutnya terasa kecil dan goyah.
"Buddy," bisik Maya. "Tetap bersamaku."
Buddy bersandar pada kakinya. Telinganya menyentuh tangannya. Gedebuk-gedebuk bunyi ekornya.
Maya menarik napas. Dia tahu sebuah permainan. Di rumah Kakek bersembunyi di tempat-tempat konyol dan berkata, "Temukan aku!" Buddy selalu menemukannya.
"Buddy," kata Maya, "Temukan Kakek."
Buddy mengangkat hidungnya. Endus, endus. Dia mengendus tali biru. Dia mengendus udara. Dia mengendus tanah tempat sepatu Kakek berada. Kakek selalu berbau permen peppermint dan sabun.
Buddy melangkah maju. Dia tidak menarik. Dia melihat kembali untuk memeriksa Maya. Matanya berkata, "Ayo. Aku di sini."
Mereka melewati panggung boneka. Mesin gelembung meniupkan awan gelembung mengkilap. Pop! Pop! Pop!
Seorang balita kecil mengulurkan tangan. "Doggie!"
Buddy berhenti agar tangan kecil itu bisa menepuk sisi lembutnya. Dia mengibas sedikit halo. Kemudian dia melihat ke Maya lagi. Dia siap.
"Anjing pintar," kata Maya. "Ayo pergi."
Mereka berjalan di tepi kolam. Angsa-angsa sangat sibuk, berbunyi honk-honk dan mengunyah rumput. Buddy tidak menarik. Dia tidak menggonggong. Dia tetap tepat di lutut Maya.
Endus, endus. Langkah, langkah. Lihat kembali. Kibas.
Mereka mencapai bangku dengan syal merah. Syal itu berkibar seperti bendera. Telinga Buddy terangkat. Dia memberikan satu gonggongan yang jelas.
"Guk!"
"Maya! Buddy!" Suara Kakek datang dari belakang bangku. Dia ada tepat di sana, membeli limun dari gerobak kecil.
Kakek berlutut. "Itu kamu!" Dia memeluk Maya. Dia menggaruk dagu Buddy. "Kalian tetap bersama. Hidung pintar, Buddy!"
Perut Maya terasa besar dan berani lagi. "Kami bermain Temukan Kakek," katanya. "Buddy tahu."
Kakek tersenyum. "Mari duduk sebentar." Dia menyerahkan cangkir dingin kepada Maya. Dia meletakkan mangkuk kecil air di tanah untuk Buddy.
Mereka duduk di bawah naungan pohon berdaun. Maya menyeruput limun. Buddy menyeruput airnya. Seekor kupu-kupu kuning mendarat di telinga Buddy. Dia berkedip, terkejut, dan Maya terkikik.
"Ke mana pun kita pergi," kata Maya padanya, "kamu adalah Buddy-ku."
Buddy meletakkan kepalanya di lututnya. Gedebuk-gedebuk bunyi ekornya.
Kemudian, di rumah, Maya menggelindingkan bola merah di atas karpet. Buddy berlari mengejarnya dan membawanya kembali. Dia menekannya ke tangan Maya seperti janji kecil yang bulat.
"Guk," kata Buddy lembut.
Maya tersenyum. "Aku tahu," katanya. "Kita bersama."
Dan Buddy tetap tepat di sisinya.


























