Angsa yang Bertelur Emas
Pada suatu masa, hiduplah seorang petani dan istrinya di sebuah peternakan kecil. Mereka bekerja keras setiap hari, memberi makan ayam, memerah susu sapi, dan merawat satu-satunya angsa putih mereka. Mereka tidak punya banyak, tetapi mereka berbagi segalanya dan bermimpi hidup menjadi sedikit lebih mudah.
Suatu pagi, seperti biasa, petani itu pergi ke kandang angsa. Angsa itu menatapnya dan berkokok pelan. Di jerami tergeletak sebutir telur yang berkilauan. Petani itu membungkuk dan dengan hati-hati mengangkatnya. Telur itu berat. Telur itu mengkilap. Telur itu terbuat dari emas!
"Mungkinkah ini benar?" bisiknya.
Istrinya datang berlari. Dia mengangkat telur itu ke arah cahaya. "Ini benar-benar emas!" katanya dengan mata terbelalak.
Mereka pergi ke kota dan meminta seorang tukang emas melihat telur itu. Tukang emas itu mengangguk. "Emas murni," katanya dan membayar mereka banyak koin. Petani dan istrinya tersenyum. Sekarang mereka bisa membeli tepung, sepasang sepatu baru, dan selimut hangat.
Keesokan paginya, telur emas lain tergeletak di jerami. Dan keesokan paginya lagi, satu lagi. Setiap hari angsa itu bertelur emas, dan setiap hari petani dan istrinya menyimpan koin di peti kecil.
Mereka mulai bermimpi. "Lumbung yang lebih besar," kata petani itu. "Gaun baru," kata istrinya. Mereka menghitung koin dan merencanakan. Setiap malam mereka dengan hati-hati menutup peti dan bersyukur atas hari baik lainnya.
Tetapi setelah beberapa waktu, menunggu menjadi sulit. "Bagaimana jika ada banyak emas di dalam angsa itu," kata sang istri suatu malam. "Jika kita mengeluarkan semuanya sekaligus, kita tidak perlu khawatir lagi selamanya."
Petani itu melihat ke peti, ke kandang angsa, dan ke istrinya. "Itu terdengar menggiurkan," katanya. "Satu telur sehari berjalan lambat. Jika semua emas ada di sana, kita bisa menjadi kaya sekarang."
Mereka berbisik dan berpikir. Mereka berpikir tentang rumah besar, barang-barang bagus, dan tidak perlu bekerja terlalu keras. Keserakahan merayap masuk, seperti bayangan kecil di dalam ruangan.
Dini hari berikutnya, petani itu mengambil pisau tajam. Angsa itu menatapnya dengan mata yang baik. "Apakah kamu yakin?" tanya sang istri dengan suara gemetar. "Kita akan sangat bahagia," jawab petani itu, meskipun jantungnya berdetak kencang.
Mereka melakukannya. Mereka membuka perut angsa untuk menemukan semua emas sekaligus. Tetapi di dalamnya tidak ada emas. Hanya apa yang ada di dalam angsa biasa. Angsa itu terbaring diam. Ia tidak berkokok lagi.
Petani itu menjatuhkan pisaunya. Istrinya duduk dan menutupi wajahnya dengan tangannya. Di kandang angsa, suasana senyap. Tidak ada kilauan emas. Tidak ada lagi telur untuk pagi-pagi selanjutnya. Peti kecil dengan koin tetap ada, tetapi tidak lagi terisi.
"Apa yang telah kita lakukan?" bisik petani itu. "Kita memiliki sesuatu yang baik, dan kita menginginkan lebih banyak sekaligus. Sekarang kita kehilangan segalanya."
Sang istri mengangguk. "Jika kita menunggu, kita akan mendapatkan telur emas setiap hari. Kita bisa terus hidup dengan baik dan aman."
Jadi petani dan istrinya belajar pelajaran yang berat. Orang yang menginginkan segalanya sekaligus bisa kehilangan segalanya. Lebih baik bersabar, bersyukur, dan bijaksana. Dan merawat kebaikan yang sudah Anda miliki.


























